Cinta Bukan Berwujud Bunga

Oktavian dan Lena adalah pasangan suami istri yang hidup di antara keramaian dan kesibukan kota Yogjakarta. Dan sang suami yaitu Oktavian adalah seorang penulis yang cukup terkenal di kotanya. Lena sangat mencintai sifat suaminya yang alami dan Lena menyukai perasaan hangat yang muncul di hatinya, ketika Lena bersandar di bahu suaminya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan. Lena mulai merasa lelah, alasan-alasannya yang membuat diamerasakan hal yang seharusnya tidak ia rasakan adalah. mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Lena merasa seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Lena merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah Lena dapatkan. Oktavian jauh berbeda dari yang Lena harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan mereka telah mementahkan semua harapan Lena akan cinta yang ideal.

Suatu hari, Lena beranikan diri untuk mengatakan keputusannya kepada suaminya tercinta, bahwa Lena menginginkan perceraian. “Mengapa?”, Oktavian bertanya dengan terkejut. “Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan,” kata Lena memberikan alasan kepada suaminya. Oktavian terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan Lena semakin bertambah. kepada suaminya, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa Lena harapkan darinya ?

Dan akhirnya Oktavian bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”. Lena menatap mata suaminyadalam-dalam dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya. Seandainya saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?”

Oktavian termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”. Hati Lena langsung gundah mendengar respon suaminya.

Keesokan paginya, Oktavian tidak ada dirumah, dan Lenamenemukan selembar kertas dengan coret-coretan tangan suaminya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan :”Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya. (Kalimat pertama tulisan tangan suaminya itu menghancurkan hati Lena. Tapi dengan sekuat tenaga Lena berusaha melanjutkan untuk membacanya)

Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-jari saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya.

Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.

Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu.

Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘teman baikmu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.

Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.

Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.

Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.

Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.

Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu.

Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”

Air mata Lena jatuh ke atas tulisan tangan suaminya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi Lena tetap berusaha untuk membacanya kembali.

“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu.

Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”

Lena segera berlari membuka pintu dan melihat suaminya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaannya. Akhirnya, kini Lena tahu, tidak ada orang yang pernah mencintainya lebih dari Oktavian mencintainya.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

“Karena cinta tidak selalu harus berwujud “bunga”.

Kutipan dari salah satu blog (maaf lupa dari mana)