“Novel Ayat-Ayat Cinta”

Saya membaca novel ini baru kemarin, itupun dapat dari teman. Sebelum baca tak lupa saya menyediakan teman yang selalu menemani saya dikala senggang “segelas kopi dan rokok inter”. Kebiasaan ini sulit hilang padahal saya tahu ini kebiasaan jelek, tapi susah sekali dihilangkan. Kurang kebih jam menunjukkan pukul 19.00 ketika saya mulai membaca. Saya sebenarnya paling tidak suka disuruh membaca novel tapi kata teman-teman novel ini bagus, jadi bikin penasaran. Beberapa lembar mulai terbaca dan saya larut dalam cerita novel ini, memang benar novel ini berbeda dari novel-novel lain. Konflik keseharian tokoh utama yang membikin saya kagum dan terharu. Tokoh Fahri dalam novel ini dikisahkan sebagai seorang mahasiswa desa yang dengan keterbatasan materi dapat berjuang hidup di Mesir. Segala cara dilakukan untuk menghidupi kesehariannya. Sosok pemuda desa ini memiliki kharisma yang mendalam dan sangat dikagumi dan dihargai oleh teman-temannya. Seandainya memang ada sosok seperti ini saya pasti sangat bangga dan ingin sekali mengenalnya. Banyak hal yang dapat saya petik dari membaca novel ini (tentunya yang baik), salah satunya ketika dia memperlakukan seorang wanita terlebih istrinya seperti ketika dia barucap “Maafkan diriku atas ketidakmampuanku melakukan hal itu. Aku tidak mungkin menyatakan cinta dan menyentuh bagian tubuh seorang wanita, kecuali pada isteriku saja.” ketika diminta untuk membantu tokoh Maria yang sedang koma. Gila jarang sekali ada seorang pria yang mampu menahan nafsunya walaupun untuk menyelamatkan nyawa seseorang, tapi dia mampu mengendalikan nafsunya karena begitu amat sangat menghargai wanita. Beda dengan anak muda jaman sekarang belum apa-apa sudah mengatasnamakan cinta, bisa berbuat semaunya (saya jadi malu karena saya kurang mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya), kliahatannya Tokoh Fahri ini paham betul dengan batasan cinta yang sesungguhnya menurut Islam karena menurut dia “Cinta sejati dua insan berbeda jenis adalah cinta yang terjalin setelah akad nikah. Yaitu cinta kita pada pasangan hidup kita yang sah. Cinta sebelum menikah adalah cinta semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan.”. Gimana gak keren tuh pendalamannya tentang cinta wah-wah jadi semakin minder. Dalam novel ini juga saya jadi tahu bagaimana cara berjuang hidup dengan keyakinan iman dalam diri dan ketaqwaan kepada Sang Maha Pencipta. Terus terang ketika saya membaca novel ini saya tidak ada apa-apanya dibandingkan tokoh Fahri. Dia sampai dicintai oleh beberapa wanita yang kesemuanya mencintainya bukan karena wajah yang ganteng tetapi karena akhlak, tingkah laku dan perbuatannya yang mencerminkan sosok pemuda sempurna dambaan setiap wanita. Konflik ketika dia dipenjara merupakan salah satu ujian kesabarannya. Dia yakin selama di jalan yang benar Allah SWT selalu memberi petunjuk. Saya jadi berpikir ada gak ya sosok seorang Fahri di dunia ini. Sebetulnya banyak yang dapat saya ambil hikmah dari membaca novel ini dan saya yakin itu adalah hikmah yang baik, tidak rugi saya meluangkan waktu sedikit untuk membaca novel ini. Tapi tokoh ini hampir mirip dengan tokoh Azzam dalam novel Ketika Cinta Bertasbih (menurut saya) kedua tokoh utama ini sama-sama berkharisma dan sangat disegani oleh orang banyak dan juga terlahir dari keluarga sederhana. Dari 2 novel ini saya semakin salut kepada pengarangnya. Wah jadi pengin lihat versi “movie”nya, sebagus novel nya gak ya. Ya emang gak salah kalau novel ini jadi best seller emang keren. Pokoknya buat semua yang belum baca pasti nyesel, 2 novel ini sama-sama bagusnya.

Maaf kalo ada kata-kata yang salah, tulisan ini murni pemahaman saya setelah membaca novel ini dan mungkin berbeda dengan pemahaman anda. Terima Kasih

(Dalam membaca novel ini telah habis 4 batang rokok inter dan 1 gelas kopi “sampe adem kopine”)