Sehari di Bungurasih

Karena merasa jenuh di kos-kosan kakak saya yang terletak di belakang Ramayana (bungurasih) tidak ada salahnya jika saya jalan-jalan di sekitar Ramayana. Masuk Ramayana melihat barang-barang mungkin sedikit menghibur saya. Ternyata malah tambah makin sumpek liat barang-barang tapi gak bisa beli. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke terminal yang letaknya tidak jauh, hanya beberapa ratus meter dari Ramayana. Yah karena mungkin pagi hari, banyak orang berlalu lalang untuk memulai aktivitas kerjanya. Kesibukan seperti ini mungkin sudah menjadi pemandangan sehari=hari terminal ini. Menyusuri lorong-lorong terminal menjadi menarik buat saya, karena biasanya saya tidak pernah berlama-lama di terminal ini, kalaupun lama itu di ruang tunggu untuk menanti bus tujuan.

Saya berhenti sejenak untuk mengamati orang berlalu lalang sambil menikmati seteguk botol air mineral yang saya beli di stan toko terminal. Pandangan saya berhenti sejenak menyaksikan seorang ibu dengan anak yang masih kecil sedang meminta-minta. Juluran tangan kecil dari satu orang ke orang lain tak lelahnya anak itu lakukan. Tetapi dari beberapa orang, saya melihat hanya 1-2 orang saja yang peduli untuk memberikan sedikit rejekinya. Seakan mereka tidak peduli dengan juluran tangan mungil anak itu. Yah iseng-iseng saya menghampiri seorang bapak yang tadi tampak acuh saja ketika dimintai sedikit rejekinya. Untuk memulai pembicaraan saya bertanya “jam brapa pak yaa?”, jam 11 dik katanya sambil menghisap kembali rokoknya. Saya melanjutkan pembicaraan dengan nada memancing “mau kemana pak?”, oh tidak saya menunggu keluarga saya datang dari Jombang, saya mau jemput. Kerja Pak di Surabaya lanjut saya. Iya saya kerja di sini sudah 2 tahun ini. Disini banyak pengemis ya pak (sambil agak melihat ke ibu dan anak tadi)? oh iya dik gak disini aja dimana-mana ada, makanya saya sering malas ngasih-ngasih lha wong dikasih satu yang lain dateng blum ngamen. Ya maklum saja pak namanya juga orang nyari rejeki ada ada saja emang. Ya klo mo cari rejeki jangan ngemis dan ngamen kan banyak pekerjaan lain. Sambil agak tersenyum saya mengangguk tanda setuju dengan bapak itu. Tak lama berselang hp bapak itu berbunyi dan tampak dari pembicaraannya kliatannya sudah di tunggu di suatu tempat. Ternyata benar bapak itu lalu permisi untuk pergi dengan saya. Setelah bapak itu pergi saya kembali berjalan dan di suatu pojok tempat saya bertemu dengan ibu dan anak tadi sedang duduk dan meminta-minta. Saya lalu menghampiri dan memberi sedikit uang kepada anak dan ibu itu, sehabis itu saya bertanya sedikit dengan ibu itu. Maaf bu anaknya gak sekolah? Aduh le sekolah duite gak ono (aduh nak sekolah duitnya gak ada). iso mangan ae syukur (bisa makan aja syukur). Dalam hati saya berpikir jika ada 100 lagi orang tua kayak gini mungkin negeri ini tidak punya generasi yang berpendidikan kedepan. Ibu itu lalu berbicara sendiri dan terdengar samar-samar oleh saya, dan tiba-tiba ibu itu marah dengan saya dan berbicara agak keras. Sekolah iku gak penting le seng penting iso mangan cukup (sekolah itu tidak penting yang penting bisa makan cukup). Ibu itu pergi dan berlalu begitu saja.

Yah apakah hanya segitu mental bangsa ini dimana tingkat kepedulian yang masih rendah dan tidak ada keinginan untuk maju menuju masa depan yang lebih baik. Tingkat pendidikan yang rendah, kemungkinan yang menyebabkan bangsa ini kian terpuruk, dan rasa kecewa yang berlebih membuat bangsa ini seolah tidak peduli dengan keadaan sekitar. Hah……..knapa dengan bangsa ini……………..