Slank vs DPR

Baru-baru ini grup band slank membuat sebuah lagu yang kontroversial yang berjudul Gosip Jalanan. Dalam lirik lagu tersebut terkandung beberapa pesan moral kepada para aparat keamanan dan pejabat-pejabat negeri ini. Lagu ini sempat digugat oleh  Badan Kehormatan (BK) DPR karena dianggap terlalu menyudutkan mereka. Berikut lirik lagu slank (Gosip Jalanan) tersebut:

Gosip Jalanan

By : Slank

Pernah kah lo denger mafia judi
Katanya banyak uang suap polisi
Tentara jadi pengawal pribadi

Apa lo tau mafia narkoba
Keluar masuk jadi bandar di penjara
Terhukum mati tapi bisa ditunda

Siapa yang tau mafia selangkangan
Tempatnya lendir-lendir berceceran
Uang jutaan bisa dapat perawan
Kacau balau 2X negaraku ini

Ada yang tau mafia peradilan
Tangan kanan hukum di kiri pidana
Dikasih uang habis perkara

Apa bener ada mafia pemilu
Entah gaptek apa manipulasi data
Ujungnya beli suara rakyat

Mau tau gak mafia di senayan
Kerjanya tukang buat peraturan
Bikin UUD ujung-ujungnya duit

Pernahkah gak denger teriakan Allahu Akbar
Pake peci tapi kelakuan barbar
Ngerusakin bar orang ditampar-tampar

Beberapa saat setelah slank menyanyikan lagu ini muncul kabar adanya anggota DPR tertangkap oleh KPK di Hotel Ritz Carlton Jakarta, karena diduga melakukan tindak pidana suap. Sebuah realita yang sangat tragis, di satu sisi BK DPR menuntut slank di sisi lain anggota DPR tertangkap KPK. Apakah yang terjadi dengan bangsa ini?? Tidakkah mereka berkaca mendengar lontaran sindiran dan sentilan yang diusung para musisi, LSM, seniman ini sebagai suatu realita yang terjadi terhadap bangsa ini. Bukankah selayaknya mereka menanggapi kritik tersebut sebagai langkah introspeksi terhadap perilaku mereka. Dimana hati nuranimu para wakil rakyat? Tidak cukupkah engkau melihat bangsa ini terpuruk dengan naiknya berbagai kebutuhan pokok, banyaknya pengangguran, rakyat miskin, anak-anak sulit sekolah karena tingginya biaya pendidikan. Semoga dengan kejadian ini para wakil rakyat dapat tersadarkan dari tidur panjangnya. Tidur panjang yang membuat mereka melupakan rakyat yang membutuhkan mereka.