Jika Pendidikan adalah Pilihan….

Maaf sebelumnya jika dalam tulisan saya ini ada yang tidak berkenan, saya hanya menyampaikan opini pribadi dan tidak bermaksud untuk membodohi seseorang.

Sekarang ini banyak di media cetak, elektronik ataupun isu yang beredar bahwa terdapat berbagai kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab telah mengambil kesempatan untuk memberikan kunci-kunci jawaban soal yang akan mempermudah siswa-siswa dalam mengerjakan soal. Tingkat standar nilai kelulusan yang tinggi menyebabkan banyak siswa yang rela menempuh jalan pintas agar mereka dapat diakui berhasil dalam menempuh pendidikannya. Tidak sedikit orang tua rela mengeluarkan uangnya hanya agar anak mereka dapat memperoleh nilai-nilai yang mumpuni agar mendapat satu tanda pengakuan “lulus”. Inikah pendidikan di Indonesia ?, apa ilmu yang diajarkan pendidik kita hanya berharga satu lembar kertas bertanda “lulus”. Pernah sewaktu saya berbincang-bincang dengan tante saya di Jakarta, beliau mengatakan bahwa ada teman anaknya yang tidak lulus hanya karena nilai Matematika-nya kurang walaupun sebenarnya nilai-nilai bhs Inggris 9 dan bhs Indonesia 8. Entah ini benar atau tidak, tetapi terlepas dari itu semua apakah adil baginya jika hanya karena tidak bisa satu pelajaran lantas tidak lulus. Ah shit dimana keadilan di bangsa ini, dia cuma siswa yang baru akan menapaki masa depannya. Tegakah melihat kehancurannya, kepedihan orang tuanya, impian-impiannya????. Apakah anda yakin bahwa siswa-siswa yang anda luluskan lebih baik darinya???.

Apakah sistem ini berhenti sampai pada tingkat ini, ternyata tidak. Pengakuan pendidikan juga sangat kurang dalam tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Kampus yang notabene adalah kumpulan kaum terpelajar juga tidak ayalnya sekumpulan orang-orang yang masih mempertahankan bahwa pintar adalah ip tinggi. Pembelaan ini mungkin tidak adil bagi sebagian orang yang benar-benar pintar dan memperoleh ip “menjulang ke langit” dan lulus memuaskan. Tetapi jika anda berbicara adil, apakah adil juga jika ada mahasiswa dengan ip “menerobos ke tanah” dan lemah dalam bidang ilmu tertentu tidak layak. Banyak lowongan-lowongan kerja tetap mencantumkan standar ip tinggi. Mereka hanya melihat ilmu dari nilai-nilai di selembar kertas yang didalamnya masih ada yang tergantung pada subyektifitas dosen alias (dosen berkuasa). Inikah adil menurut anda…….

Terlepas dari itu semua mari kita benahi carut-marut pendidikan ini, jangan jadikan pendidikan sebuah pilihan. Pilihan antara pintar dan bodoh, jika anda berpendidikan maka anda pintar dan jika tidak maka anda bodoh. Pendidikan hanya cara kita memperoleh ilmu bukan cara kita memperoleh pengakuan masyarakat, jika boleh berkata “goblok, tolol, sinting” orang-orang yang tetap menganggap mereka selalu lebih baik, lebih pintar. Percayalah ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang berguna bagi orang lain bukan ilmu yang hanya dihargai oleh selembar kertas berisi nilai-nilai.