Guru “Pahlawan tanpa tanda jasa ??”

guruGuru..

Sebagian orang mungkin menilai guru adalah pahlawan yang sangat berjasa bagi mereka.  Teringat masa-masa indah bersama guru tercinta seakan menjadi kenangan terindah sepanjang masa. Guru bagi mereka adalah seorang pendidik, seorang teman bahkan mereka menangangap guru adalah “orang tua” mereka di sekolah. Pahlawan tanpa tanda jasa selayaknya patut kita sematkan kepada “guru” atas pengabdian mereka kepada anak didiknya. Guru seakan menjadi pekerjaan mulia, bahkan jika kita melihat banyak guru yang rela mengabdikan profesinya di daerah-daerah pedalaman, daerah kumuh, yang jika dihitung dari segi hitungan pekerjaan, tidak layak (gaji). Namun belakangan ini profesi guru menjadi tidak populer lagi pamornya di kalangan para anak didiknya. Profesi ini seakan tercoreng atas kelakuan sebagian oknum “guru” yang dengan mudahnya melakukan tindak kekerasan bahkan diantaranya ada yang melakukan tindakan pelecehan terhadap anak didiknya. Menurut vivanews.com, pada tahun 2007 saja setidaknya ada 555 kasus kekerasan yang 11,8 persennya dilakukan oleh guru. Sedangkan pada tahun 2008 ini terdapat 86 kasus dan 39 persen pelakunya adalah guru. Dan yang lebih mengenaskan lagi 62 persen kekerasan dilakukan guru terhadap para siswi perempuan adalah tindakan pelecehan seksual.  Tindakan cabul guru ini bahkan bukan hanya dilakukan di kota besar, pada April silam seorang guru SD Negeri di Banjarnegara, Jawa Tengah tega mencabuli kelima anak didiknya sewaktu mengikuti les di rumahnya (tempo.co.id).

Dan baru-baru ini dikabarkan seorang guru di Gorontalo memukul anak didiknya, tepatnya Pak Awaluddin guru matematika di SMK Negeri 3 Gorontalo yang melakukan tindak kekerasan secara bergantian kepada belasan anak didiknya. Oknum guru ini kemudian dicopot dari profesinya setelah berita ini ramai diberitakan di media. Tindakan guru matematika ini terkesan sengaja untuk memberi hukuman kepada anak didiknya. Tapi apakah pantas seorang guru bertindak demikian? bukankah masih banyak sanksi lain yang lebih mendidik selain tindakan pemukulan.

Seharusnya setiap guru mengerti kode etik seorang guru dalam mengajar dan mendidik setiap anak didiknya. Dalam SISPENDIKNAS 2003 BAB XI ‘Pendidik dan Tenaga Kependidikan’ sudah jelas. Misalnya pada pasal 40 ayat 2 dengan tegas menyatakan bahwa guru diharapkan menjalankan kewajibannya untuk a) menciptakan suasana pendidikan yang amat menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; b) mempunyai komitmen secara profesional dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan; c) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi dan kedudukannya sesuai kepercayaan yang diberikan kepadanya (jawabali.com).

Sayang setiap guru di Indonesia kurang bisa memahami kapasitasnya sebagai seorang pendidik. Mereka seakan menganggap guru adalah sebuah pekerjaan semata dan tidak melihat aspek kapasitasnya sebagai seorang pendidik sejati. Hal ini mungkin dikarenakan rekruitmen CPNS baik tenaga teknis, umum ataupun tenaga pendidik hingga kini sering diwarnai sogok-menyogok, kecurangan dan hal-hal berbau busuk lainnya demi mendapatkan gelar PNS yang menurut mereka adalah gelar bergengsi sekarang ini. Mereka seakan dibuat terlena oleh gelar PNS, pegawai negri dengan gaji tetap dan tunjangan lainnya yang membuat sebagian PNS bertindak di luar kapasitas mereka.

Dan terlepas dari itu semua, tindak kekerasan guru terhadap anak didiknya ini diharapkan menjadi PR yang serius. Perlindungan anak memang menjadi tanggung jawab negara dan masyarakat luas. Tapi harus diakui juga bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam keseharian anak karena sebagian besar waktu mereka habiskan bersama sang guru.

Jadi masih layak kah “Guru sebagai pahlawan menurut anda ??”

About these ads