Sugesti sang dukun Ponari….

Siapa yang tidak kenal Muhammad Ponari ?, bocah kelas 3 SD Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang. Bocah ini beberapa pekan selalu menjadi bahan pemberitaan media karena batu ajaibnya. Beribu-ribu orang datang untuk memperoleh kesembuhan dari batu sang “dukun cilik” ini. Batu yang didapat “Ari” sapaan Ponari ini dipercaya dapat menyembuhkan segala macam penyakit hanya dengan mencelupkannya ke air. Kesaktian batu ini bermula dari salah seorang tetangga Ari yang sakit panas dan muntah-muntah, dengan tanpa diminta Ari kemudian mencoba menyembuhkannya dengan mencelupkan batunya kedalam air kemudian meminumkannya ke orang tersebut. Dan alhasil tetangga tersebut sembuh dan kemudian berita ini menyebar dari mulut ke mulut, sampai akhirnya menjadi peristiwa fenomenal sekarang ini.

Kesaktian batu ajaib Ponari ini cepat tersebar ke berbagai pelosok Jombang, sampai akhirnya menjadi sangat terkenal berkat pemberitaan media baik lokal maupun nasional. Kurang lebih 3 pekan ini sang “dukun cilik” dengan rela melayani setiap pelanggannya yang datang, bahkan berkat Ponari perekonomian di desa Ponari menjadi maju. Pembangunan jalan, kas desa, bahkan pedagang kaki lima turut menikmati keuntungan berkat ramainya orang yang datang.

Terlepas dari benar tidaknya kesaktian batu Ponari, dalam kasus ini seharusnya kita dapat belajar. Sebenarnya apa yang membuat orang datang berbondong-bondong ke sang dukun. Alasan yang diberikan salah satu pasien Ponari mengatakan bahwa, pengobatan ini murah dan biaya yang dikeluarkan juga tidak memaksa (sukarela). Lalu apa yang terjadi dengan rumah sakit, klinik, dokter atau puskesmas? Apakah biaya terlalu mahal?

Bukan menjadi rahasia lagi, jika pengobatan untuk anak sakit saja bisa mencapai seratus atau dua ratus ribu sekali berobat ke dokter. Resep dengan tulisan ceker ayam bisa berharga ratusan ribu rupiah. Memang sebagai pasien kita tidak mengerti isi dari resep tersebut, namun sebagai dokter pantaskah memberikan obat bermerk mahal, atau obat beragam jika sebenarnya hanya sakit demam yang sebenarnya dapat sembuh dengan sendiri, dengan memberikan sedikit vitamin (karena sebenarnya tubuh dapat menyembuhkan dirinya sendiri).

Kembali ke sang dukun cilik. Benarkah kesaktian batu “petir” itu? Benar atau tidaknya kesaktian batu itu sebenarnya tergantung dari penilaian kita masing-masing. “Sugesti” mungkin itu yang paling masuk akal menjadi obat suatu penyakit. Sugesti orang bahwa batu itu mempunyai kesaktian adalah merupakan sikap positif dalam kesembuhan suatu penyakit. Pernah ada suatu cerita tentang seorang dokter yang berpraktek di desa. Seorang pasien datang ke dokter tersebut dan si dokter memberikan secarik kertas kepada pasien. Namun karena sang pasien belum terbiasa ataupun orang desa yang tidak mengerti, maka kertas tersebut direbus di dalam air kemudian di minum. Dan walhasil penyakit tersebut sembuh. Sebenarnya pasien tersebut dengan tidak sadar telah ter-sugesti bahwa dengan pergi ke dokter beliau akan sembuh maka sembuhlah penyakitnya.

Contoh sugesti yang lain adalah ketika kita menderita pilek, jika sugesti yang diberikan bahwa saya sakit, saya harus istirahat seharian, saya tidak dapat beraktivitas, maka kita benar-benar merasakan sakit pilek tersebut. Lain lagi jika kita berpikiran bahwa ini hanya pilek biasa dan saya kuat dan masih dapat beraktivitas, maka sejenak kita lupa akan penyakit tersebut dan bahkan tidak mungkin pilek tersebut akan sembuh dengan sendirinya.

Alasan itulah yang paling masuk akal kenapa batu tersebut mempunyai keajaiban, karena sungguh tidak masuk logika air yang tercelup batu (yang kemungkinan kotor), dan bahkan air comberan bisa mengobati suatu penyakit.

Benarkah kesaktian batu petir Ponari?

WALLAHU’ALAM
=HANYA ALLAH YANG MENGETAHUI SEGALANYA=